Sunday, October 29, 2017

Halusinasi Sendu (Sebuah cerpen tragedi)

H A L U S I N  A S I    S E N D U

Fadil Al Karsad


Pagi itu sinar matahari terasa begitu hangat. Semilir angin khas musim kemarau hilir mudik menerpa apa saja, menghadirkan kesejukan tersendiri bagi setiap mahluk. Suara kicau burung yang bersautan di ranting-ranting ketapang yang ada di depan dan samping rumah, terdengar begitu harmonis, berpadu dengan derit-derit bambu yang bergoyang-goyang diterpa angin.

Namun berbagai kenyamanan yang tersuguh pada pagi yang cerah itu seolah tak mampu memberi arti bagiku. Langkahku justru gontai ketika aku diminta masuk ke ruang keluarga, tempat ibu dibaringkan sepulang dari rumah sakit.
Di ruang itulah, sekilas aku melihat ada beberapa tetangga dekatku yang berdiri. Semuanya tertunduk dan terisak. Di sekeliling ranjang, tampak bapak, kakak semata wayangku, dan saudara dekat ibu yang sedang berusaha memandu ibu mengucapkan kalimat takbir dan syahadat.

Sementara di atas ranjang sederhana yang biasa kami gunakan untuk menonton televisi, aku melihat ibu terbaring dengan pandangan mata yang kosong dan bibir yang bergetar-getar. Hatiku merintih, “Begitukah rupa orang yang akan meninggal?”

Maka dengan tubuh bergetar, aku berusaha untuk meminta maaf pada ibu sebelum ia benar-benar pergi. Ingin sekali lisanku berucap, memohon maaf atas semua tingkah nakal yang pernah kuperbuat. Ingin sekali bibirku yang terkatup, bisa mengungkapan sebaris kata-kata penyesalan atas segala kekurangajaran yang telah kulakukan padanya.

Namun setelah meraih tangan ibu yang mulai terasa dingin, tak ada sepatah kata pun yang mampu kuucap. Lidahku terasa kelu. Bibirku hanya mampu bergetar karena terus menahan tangis. Aku tak kuasa menyaksikan pemandangan itu. Karena untuk pertama kalinya, aku melihat secara langsung detik-detik yang mungkin akan menjadi akhir dari kehidupan seorang manusia.

Dan yang membuat batinnya begitu terhenyak, manusia itu tidak lain yaitu ibu kandungku sendiri, orang nomor satu yang paling berharga dalam kehidupanku. Maka dengan terus berusaha menahan isak tangis, kutempelkan keningku di tangan ibu dengan hati yang kian merintih, “Ibu, maafkan aku!”

Itulah sebaris kata yang benar-benar keluar dari hatiku meski tak mampu terucap. Karena sungguh, tak mampu lagi bagiku melihat rupa ibu yang sedang berjuang menghadapi saat-saat terakhir dalam hidupnya.

Maka, sesegera mungkin aku berdiri sebisaku. Dan dengan air mata yang masih berlinang, kulangkahkan kakiku yang kian bergetar, kembali menuju ke ruang tamu.

Angin yang sebenarnya berembus keluar masuk dari jendela ruang tamu, seketika seolah berhenti. Suara para kerabat dan tetangga yang terus melantunkan ayat-ayat suci Al Quran, tiba-tiba seperti tak lagi dapat kudengar. Kaki yang semula masih agak kuat menopang berat badan, seakan menjadi nyata tak bertulang. Tubuhku benar-benar terasa sangat lemas.

Namun di tengah kesadaran yang kian melemah, aku masih bisa merasakan ada seseorang yang menyangga tubuhku. Seseorang yang kemudian kukenali sebagai bibiku itu, memapahku sampai aku merasa terduduk di atas sofa ruang tamu.

Berulang kali ia membisiki telingaku, menyuruhku ber-istighfar, berserah diri, dan berusaha menerima takdir dengan ikhlas. Namun setelah itu, sebelum aku benar-benar mampu mengucapkan kata-kata seperti yang ia contohkan, aku merasa dunia kala itu begitu gelap. Napasku seperti tercekat. Aku tak sadarkan diri.


Aku seperti berada di tempat lain. Di situ, aku melihat ibu tak lagi menderita sakit. Malah, ia terlihat begitu segar dengan busana putih yang menjadi seragam yasinan ibu-ibu di kampungku. Namun aneh, aku sama sekali tak mampu berucap sepatah kata pun ketika ibu berpamitan untuk pergi. Malah tak seperti biasa, ibu pergi dengan senyum yang mengembang, sembari berpesan agar aku tak menunggu.

“Ibu nanti lama. Tempat tujuan ibu jauh. Kamu ndak usah nunggu. Kamu di rumah aja, jaga bapak.”

Aku tak mengangguk, tak pula menggeleng. Aku tak mampu memberi reaksi apa pun. Lidahku seperti kelu. Badanku terasa kaku. Padahal dalam hati, aku menjerit.  Aku tahu, maksud ibu mengatakan tempat tujuan yang jauh, yaitu pertanda bahwa ibu akan pergi untuk selama-lamanya. Aku pun tahu, arti senyum ibu yang mengembang, yaitu pertanda bahwa ia tiada berat hati meninggalkan segala yang ada di dunia ini.

Namun satu hal yang membuatku bertanya-tanya, yaitu pesan ibu agar aku menjaga bapak. Mengapa justru aku yang harus menjaga? Bukankah aku yang akan merasa sangat kehilangan jika ibu tiada sehingga akulah yang seharusnya dijaga? Terlebih, akulah si bungsu kolokan yang jelas-jelas begitu dekat dengan ibu. Ah, betapa tak mengerti aku dengan pesan itu.

Belum reda rasa bingung yang menyergapku, tiba-tiba aku mendengar suara berisik dari dalam rumah. Suara itu seperti suara orang sedang memalu sesuatu dengan pukulan yang sangat keras. Seketika, aku pun berusaha melihat ke dalam rumah. Aneh, tubuh yang semula kaku, tiba-tiba begitu mudah kugerakkan hingga aku berada di ruang makan. Dari situ, aku melihat kakak perempuanku sedang memaku pintu kamar mandi. Tak hanya itu, ia pun memasang palang dari atas sampai bawah agar pintu kamar mandi benar-benar tidak bisa dibuka.

Kucoba langkahkan kaki untuk mendekat, namun tubuhku kembali kaku. Ingin aku berteriak untuk menghentikan perbuatan kakakku, namun sama seperti sebelumnya, lidahku kembali kelu. Aku benar-benar tidak paham. Mengapa ini bisa terjadi padaku?  Akhirnya, aku hanya bisa merintih memanggil-manggil kakakku.


Lamat-lamat aku mendengar suara bibi. Meski sudah mulai bisa membuka mata kembali, aku masih belum mampu memberi respons apa pun pada ucapannya. Sekujur tubuhku masih terasa sangat lemas. Padahal setelah kesadaranku berangsur membaik, ingin sekali aku langsung mendatangi ibu, memastikan kondisinya yang kulihat berbeda dalam halusinasi ketidaksadaranku.

Namun baru saja aku berusaha menoleh ke arah pintu yang menuju ruang tengah, aku melihat sesosok tubuh terbalut kain putih, yang dibaringkan di atas ranjang kecil, tepat di tengah ruang tamu. Seketika, tenggorokanku seperti tercekat. Jantungku berdebar begitu kencang. Badanku kembali bergetar hebat. Air mataku menetes deras. Dan bibirku merintih memanggil-manggil ibu.

“Sabar, nduk! Yang ikhlas! Ibumu sudah tenang di alamnya sana. Kalau kamu masih belum ikhlas, nanti ibumu juga merasa berat di sananya. Ayo istighfar, nduk! Astaghfirulla…h al azi…m! Astaghfirulla…h al azi…m!”

Mendengar itu, aku tak mampu lagi menguasai diriku. Aku hanya bisa merasa tubuhku begitu lemas. Aku tak lagi mampu mengeluarkan suara tangis. Hanya air mata yang kurasa mengalir begitu derasnya.

Duhai, kiranya nyanyian kematian telah menggema, menghentak rumah kecilku, memutus jalinan cinta suci ibu dan bapak, serta mengubur tempatku bermanja dan mengadu. Kini tiada lagi semua itu. Hanya kenanganlah yang akan tersisa.

Kematian. Kata itu pulalah yang mengakhiri setiap kisah hidup manusia di dunia, menjadi sesuatu yang pasti terjadi dengan apa pun yang menjadi penyebabnya. Sehingga, tak ada sejengkal pun tempat yang bisa dijadikan sebagai pelindung dari kedatangannya. Karena memang itulah ketetapan Ilahi, segala mahluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian.


Rumah ini tampak masih seperti yang dulu, seperti ketika aku sama sekali belum mengenal kehidupan dunia, atau pun seperti ketika aku sedang tumbuh menikmati masa kecil. Namun halaman dan pekarangan yang dulu menjadi hutan kecil di depan rumah, kini sama sekali tak berbekas.

Tak ada lagi pagar hidup yang mengelillingi halaman rumah. Tak ada lagi dua pohon nangka kesayangan. Tak ada lagi lima pohon kelapa perkasa yang dulu menjulang bak tangga yang menuju ke langit. Tak ada lagi dua pohon pinang yang pelepah keringnya dulu selalu kumainkan menjadi kereta seret bersama teman-teman kecilku.

Tak ada lagi rindang tiga pohon ketapang dengan batang dan ranting yang lurus memanjang. Tak ada lagi barisan tanaman katu yang daun-daunnya acap kali menjadi bahan sayur bening ibu, atau pun para tetangga yang tak sungkan lagi saling meminta dan berbagi. Dan di tepi jalan masuk, pun tak ada lagi lebat pohon ceri yang buah merahnya kerap membuatku berseri-seri.

Hutan kecil itu telah berubah menjadi dua lajur lapak besar, sisa-sisa usaha bapak merintis bisnis kayu yang akhirnya berujung pada kebangkrutan. Bahkan ibarat bunga yang layu sebelum berkembang, usaha bapak bangkrut sebelum sempat berjalan stabil. Modal usaha itu pun habis di tengah jalan. Padahal, modal usaha itu berasal dari sisa hasil penjualan sepetak sawah yang terakhir.

Faktor utama penyebabnya yaitu ketidakstabilan mental bapak. Karena sejak ibu meninggal, bapak seperti kehilangan gairah hidup yang dulu terang menyala bak matahari yang mampu menularkan nyala itu kepada bulan atau pun benda-benda langit yang lain.

Diawali pada pekan kedua setelah ibunya meninggal, bapak kerap terlihat menyendiri di teras rumah pada tengah malam. Dengan pandangan mata yang kosong, bapak berusaha menyenandungkan lagu-lagu pilu sedapatnya, yang dikiranya bisa mengobati rasa kehilangan yang menancap di relung-relung jiwanya yang sepi. Seperti itulah yang terjadi setiap malam. Dan biasanya, bapak baru bergegas ke dalam rumah ketika suara ayam terdengar saling bersautan.

Kini, setelah kebangkrutan usahanya, bapak justru makin terpuruk. Aku dan kakakku kerap melihatnya berdialog dengan baju-baju ibu di dalam kamar. Baju-baju itu ia susun di atas tempat tidur, satu per satu tiap harinya.

Dari itulah, aku mulai paham dengan makna pesan ibu. Ternyata benar, bapaklah yang mengalami ketidaksiapan psikis sehingga harus dijaga. Tapi dengan cara apa aku harus menjaga bapak? Lalu, apa makna tindakan kakak menutup pintu kamar mandi dalam halusinasiku kala itu?

Dalam kondisi bingung, kusampaikan kronologi halusinasi itu pada kakak. Kakak pun tak tinggal diam. Sore itu, ketika bapak pergi ke makam ibu, tanpa seizin bapak, kakak memaku pintu kamar bapak dan ibu dari luar. Tak hanya itu, ia pun memasang palang dari atas sampai bawah agar pintu itu benar-benar tidak bisa dibuka.

Aku tahu maksud kakak. Ia berusaha membatasi bapak dari hal-hal yang berhubungan dengan ibu agar bapak bisa seutuhnya melupakan ibu. Yah, benar. Mungkin itu makna halusinasiku kala itu. Sedikit kejam, memang. Namun dengan cara seperti itulah, semoga bapak bisa berubah. Lagi pula, masih ada ranjang di ruang tengah yang bisa dipakai sebagai tempat tidur bapak.


Aku terbangun dari tidurku. Pagi ini terasa begitu dingin. Kandung kemihku terasa penuh. Tak tahan lagi rasanya, harus segera dikeluarkan. Kulihat jam dinding. Pukul empat pagi, lima belas menit sebelum azan subuh berkumandang.

Dengan kesadaran seadanya, kucoba langkahkan kaki, seperti zombi. Kubuka pintu kamar, ranjang di ruang tengah terlihat kosong. Bapak tidak ada. Ah, mungkin tidur di sofa ruang tamu. Semalam aku memang tidur cepat, tak sempat menunggu bapak pulang dari makam.

Kususuri rumahku dengan mata yang terasa berat kubuka. Kutekan saklar di ruang makan untuk menyalakan lampu di kamar mandi. Dengan langkah yang masih gontai, kubuka pintu kamar mandi dengan perlahan.

Namun alangkah terkejutnya aku ketika melihat pemandangan yang ada di hadapanku, pemandangan yang seketika mampu menghilangkan rasa kantukku menjadi tak berbekas sama sekali, pemandangan yang membuat jantungku seperti tercabut dari tempatnya, pemandangan yang membuatku ingin berteriak sekuat-kuatnya, membuat jiwaku meronta sejadi-jadinya. Tepat di depanku, aku melihat tubuh bapak tergantung kaku.


Monday, October 31, 2016

Kritik Sastra (Kritik Ilmiah)

PSIKOLOGIS TOKOH BAPAK DALAM CERPEN "HALUSINASI SENDU"


A.   Pendahuluan
Nama Edsu B. Katori di dunia sastra Indonesia memang tidak pernah terdengar. Ia hanyalah cerpenis dunia maya. Karyanya hanya ia muat dalam blog pribadinya. Meski demikian, sebagai orang yang menghargai karya sastra, kritikus tidak melihat orang yang membuat, melainkan karya yang dibuat. Dengan kata lain, cerpen “Halusinasi Sendu” karya Edsu B. Katori yang berjenis cerita tragedi, memiliki unsur kuat untuk diberi “penilaian” dalam format kritik sastra, terutama jika dilihat dari sisi psikologi sastra.
Karena sejalan dengan pendapat Ratna (2004: 350) tentang psikologi sastra, dapat diketahui bahwa tiap individu tokoh memiliki gejolak batin yang berbeda. Gejolak batin yang dimaksud, terdiri atas kebaikan dan keburukan. Kebaikan merupakan pemikiran, perasaan, dan perbuatan yang dilakukan seorang tokoh yang sejalan dengan konvensi dalam masyarakat. Sebaliknya, keburukan mencakup pemikiran, perasaan, dan perbuatan yang dilakukan seorang tokoh yang bertentangan dengan konvensi yang berlaku dalam masyarakat. Kedua hal tersebut (kebaikan atau pun keburukan), terjadi karena dalam diri tokoh terdapat sebuah keinginan yang mendorong untuk mewujudkannya.
Ketika seorang tokoh memiliki keinginan yang sangat kuat, lalu keinginan tersebut tidak terwujud karena sebab tertentu, tokoh tersebut cenderung akan mengalami gangguan kejiwaan yang kemudian terepresentasikan dalam sikap yang buruk. Hal itulah yang tercermin dari cerpen “Halusinasi Sendu” karya Edsu B. Katori. Dalam cerpen tersebut, terdapat tokoh Bapak yang mengalami kekacauan jiwa setelah kematian istrinya. Hingga pada akhirnya, tokoh Bapak memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamar mandi. Dalam cerpen ini, Edsu B. Katori berusaha menyuguhkan sebuah tragedi kehidupan yang mengharukan.
Berkaitan dengan hal itu, kritikus merasa tertarik untuk memberikan kritik sastra terhadap cerpen “Halusinasi Sendu” karya Edsu B. Katori, terutama dari sisi psikologis salah satu tokohnya, yaitu tokoh Bapak. Kritikus akan megaitkan fenomena gejolak kejiwaan tokoh Bapak dengan konsep id, ego, dan superego Sigmund Freud.

B.    Kajian Teori
Freud membagi pikiran menjadi alam sadar dan bawah sadar. Kemudian, ia mengajukan topografi ego (pikiran sadar), superego (nurani), dan id (pikiran bawah sadar) (Ryan, 2011: 131). Hal tersebut menggambarkan bahwa manusia berpikir dalam keaadaan sadar atau dalam keadaan tidak sadar. Hal ini berarti setiap orang yang tidur, mereka tetap melakukan aktivitas berpikir. Selain pikiran sadar dan bawah sadar, Freud juga mengungkap dalam diri manusia ada mekanisme kontrol yang mengatur pikiran sadar dan pikiran bawah sadar manusia.
Topografi id, ego, dan superego juga ditunjukkan kutipan sebagai berikut:
The id is the reservoir of libido, the primary source of all psychic energy. it functions to fulfill the primordial life principle, which Freud considers to be the pleasure principle. In view of the id's dangerous potentialities, it is necessary that other psychic agencies protect the individual and society. the first of these regulating agencies, that which protects the individual, is the ego.the other regulating agent, that which primarily functions to protect society is the superego (Guerin, 2005: 156-157).
Id dianggap sebagai penampung libido yang merupakan sumber segala energi kejiwaan seseorang yang merupakan prinsip dasar dalam kehidupan seseorang. Id dianggap berbahaya, sehingga superego berfungsi dalam diri manusia untuk mengatakan “jangan”. Id menyebabkan seseorang melakukan hal-hal yang buruk-buruk, sedangkan superego menjadi pengatur agar id tidak menjadi liar berdasarkan norma-norma di masyarakat. Namun, id dan superego selalu bergesekan sehingga kadang seseorang lebih kuat id-nya daripada superego, begitu juga sebaliknya. Jika id yang lebih dominan, seseorang akan menjadi penjahat, sedangkan jika superego lebih dominan menyebabkan seseorang menjadi penakut. Dari kedua hal itu, maka diperlukan pengatur lain yang disebut ego. Ego merupakan kesadaran diri untuk mengatakan tidak atau jangan untuk melindungi diri dari dorongan-dorongan yang melampaui batas. Ego dalam psikoanalisis bukanlah sifat egoistis. Ego berfungsi sebagai penyeimbang bagi id dan superego yang ada dalam diri manusia agar manusia menjadi baik.
Gambaran mengenai id, ego, dan superego juga tergambar dalam kutipan sebagai berikut:
Quite late in his life, indeed, influenced by the ambiguity of the term 'unconscious' and its many conflicting uses, he proposed a new structural account of the mind in which  the uncoordinated instinctual trends were called the 'id', the organized realistic part the 'ego', and the  critical and moralizing function the 'super-ego', a new account which has certainly made for clarification of many issues (Freud, 1981: 21).
Dari kutipan tersebut, Freud dipengaruhi oleh keambiguitasan istilah “ketidaksadaran” dan konflik dari penggunaannya. Freud mengusulkan kebaruan struktural dalam pikiran manusia. Kebaruan struktural pikiran manusia itu terdiri atas insting yang tidak terkontrol disebut id, fungsi kritik dan fungsi moral sebagai superego, dan pengatur dari realitas yang ada disebut ego. Hal ini dapat dimaknai bahwa manusia bisa menjadi baik jika ketiga hal tersebut dapat bekerja secara seimbang. Id memunculkan gairah hidup, superego sebagai pengatur gairah manusia sehingga tidak melampaui batas kewajaran, sedangkan ego sebagai penyeimbang id dan superego dan memastikan id dan superego sejalan untuk mencapai tujuan yang baik dalam kehidupan manusia.
Pemikiran Freud juga tampak dalam kutipan sebagai berikut:
His concern and his lifelong preoccupation was as much with mystical domain of the soul as any theologian's or with doctor's. But the map of the psyche which he drew made no provision for the soul. And while he charted a whole series of newfoundlands to take the place of the old country--the 'id', the 'super-ego', 'the unconscious mind', and so on (Puner, 1961: 212).
Dalam kutipan tersebut, Puner mengungkapkan bahwa dalam kehidupannya Freud asik dan memberikan perhatian besar pada bidang kejiwaan yang bersifat mistis seperti halnya teologi atau dokter. Freud berkonsentrasi untuk memetakan lahan baru “kejiwaan” menggantikan hal yang lama dengan menyebutkan istilah id, superego, dan pikiran ketidaksadaran, dan sebagainya. Hal ini menggambarkan bahwa Freud menunjukkan minat besarnya pada gejala kejiwaan manusia. Selain itu, Freud menunjukkan pemahamannya yang luas berkenaan dengan memberikan gambaran di dalam diri manusia terdapat topografi id, ego, dan super ego.
Berbeda halnya dengan yang diungkap oleh Jaques Lacan. Perbedaan pandangan antara Lacan dan Freud tampak dalam kutipan sebagai berikut:
Lacan mengambil istilah “imajiner” yang digunakan untuk semua operasi ego. Ego bersifat narsistik. Ego membuat kita merasa nyaman dengan diri kita sendiri, tapi akibatnya adalah ego berfungsi mengingkari realita bawah sadar kita yang merupakan penentu terpenting dalam kehidupan kita. Seperti apa diri kita dalam perasaan terdalam kita tentang keberadaan diri kita tidak sesuai dengan apa yang kita tampilkan sebagai diri yang sadar. Tetapi ego membuat kita bisa membayangkan diri kita secara utuh dan sebagai satu-kesatuan. Ego memberi kita perasaan khayal bahwa kita teridentifikasi secara menyeluruh dengan diri sadar kita (Ryan, 2011: 136).
Dari kutipan tersebut, Lacan ingin mengungkap bahwa ego hanya membuat diri kita seolah-olah nyaman atau mencari rasa aman, tetapi menutup mata terhadap realitas yang terjadi dalam alam bawah sadar kita. Sebagai ilustrasi, seorang yang tertawa, belum tentu menampilkan keaslian dari rasa gembiranya. Ada kemungkinan tertawa tersebut digunakan oleh seseorang untuk menutup rasa sedih dalam dirinya. Hal itu mengakibatkan apa yang ditampilkan seseorang tidak mencerminkan suatu kebenaran, ketika berada dalam keadaan sadar.
Dalam psikoanalisis, pendapat Sigmund Freud dan Jaques Lacan memiliki persamaan dan perbedaan. Perbedaan dan persamaan antara Freud dan Lacan terletak dalam hal-hal berikut:
1.     Lacan setuju bahwa ego terbentuk dari indentifikasinya dengan figur-figur parental.
2.     Freud mengingkari dimensi-dimensi sosial dengan mengutamakan dorongan hasrat individual dan pemenuhannya, sedangkan Lacan mengakui intersubjektivitas sebagai sesuatu yang niscaya dan wajar dalam pembentukan ego.
3.     Freud menganggap ketidaksadaran sebagai suatu ancaman, sedangkan Lacan menganggap ketidaksadaran sebagai sumber kebenaran.
4.     Freud menganggap ketidaksadaran sebagai sesuatu yang substantif, sedangkan Lacan menganggapnya bukan sebagai sesuatu yang promordial atau mendasar.
5.     Freud melihat dalam kejiwaan manusia terdapat proses primer yang berkaitan dengan hasrat dan pemenuhannya dan proses sekunder yang berkaitan dengan nalar atau kesadaran. Lacan menganggap kedua proses tersebut tidak berbeda.
6.     Freud menyukai persoalan alam dan kebudayaan dengan penekanan pada dominasi kebudayaan atas alam. Lacan menganggap alam bukanlah hal yang nyata.
7.     Lacan dan Freud berbeda pandangan dalam persoalan Oedipus kompleks. Tafsiran Freud bersifat biologis dan fisikal, kemudian mempertalikannya dengan persoalan seksual, sedangkan Lacan menafsirkan secara simbolik dan mempertalikannya dengan persoalan sosial.
8.     Freud menganggap adanya kemungkinan wacana rasional walaupun selalu terganggu oleh kekuatan-kekuatan tak sadar. Lacan menganggap wacana membentuk ketaksadaran.
9.     Freud berbicara mengenai insting dan dorongan, sedangkan Lacan berbicara mengenai hasrat (Faruk, 2008: 22-24).
Pendapat Lacan mencoba memberikan gambaran bahwa dalam diri manusia ketidaksadaran dapat distrukturisasi seperti layaknya bahasa. Lacan mencoba merangkai bahasa dalam pikiran manusia, sehingga bisa ditarik sebuah simpulan bagaimana bahasa berfungsi. Namun, secara psikologi ada hal-hal yang tak dapat dirangkai dalam struktur. Pemikiran yang terkadang melompat dari satu pemikiran ke pemikiran lain menunjukkan bahwa dalam diri manusia ada pengendali dari gerak berfikir tersebut.  Sebagai bukti, seseorang yang bersedih secara tiba-tiba melupakan kesedihannya, ketika menjumpai seseorang yang sangat dirindukannya. Perubahan ini tidak begitu saja terjadi. Hal ini menunjukkan dalam diri manusia terdapat pengendali-pengendali yang mengatur seluruh gerak pikir baik secara sadar atau bawah sadar. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Freud bahwa dalam diri kejiwaan manusia terdapat tiga pengendali, yaitu id, superego, dan ego.

C.    Analisis (Kritik)
Dalam analisis psikologi yang terjadi pada tokoh Bapak dalam cerpen “Halusinasi Sendu” karya Edsu B. Katori dibagi dalam empat tahap, yaitu konsep id, konsep superego, konsep ego, dan hubungan konsep id dan konsep superego.
1.     Konsep Id
Dalam konsep ini, Edsu B. Katori berhasil menampilkan Id (pikiran bawah sadar) tokoh Bapak dengan dramatis. Yang pertama, karena merasa sangat terpukul atas meninggalnya sang istri, tokoh Bapak kerap menyendiri di teras rumahnya, sambil menyenandungkan lagu-lagu pilu, yang ia pikir bisa mengobati rasa kehilangan yang menancap di relung-relung jiwanya yang sepi. Setiap malam ia melakukan hal itu sampai menjelang pagi, ketika suara ayam terdengar.
Faktor utama penyebabnya yaitu ketidakstabilan mental bapak. Karena sejak ibu meninggal, bapak seperti kehilangan gairah hidup yang dulu terang menyala bak matahari yang mampu menularkan nyala itu kepada bulan atau pun benda-benda langit yang lain.
Diawali pada pekan kedua setelah ibunya meninggal, bapak kerap terlihat menyendiri di teras rumah pada tengah malam. Dengan pandangan mata yang kosong, bapak berusaha menyenandungkan lagu-lagu pilu sedapatnya, yang dikiranya bisa mengobati rasa kehilangan yang menancap di relung-relung jiwanya yang sepi. Seperti itulah yang terjadi setiap malam. Dan biasanya, bapak baru bergegas ke dalam rumah ketika suara ayam terdengar saling bersautan.
Dari kutipan tersebut, sangat jelas terlihat bahwa tokoh Bapak melakukan hal yang bersifat di bawah kesadarannya. Karena bagi orang yang tidak ingin kondisi kejiwaannya semakin terguncang, pasti akan berusaha bangkit dengan berpikir postif, dalam bentuk tidak menyanyikan lagu-lagu pilu. Padahal, sebelum tragedi itu, gairah hidup Bapak terang menyala seperti matahari yang mampu menularkan “sinar semangat” itu pada orang lain.
Bukti lain kemampuan penulis dalam menggambarkan id, yaitu ketika tokoh Bapak yang sangat merasa kehilangan istrinya, kerap “berdialog” dengan baju-baju istrinya di dalam kamar. Ia menata baju-baju itu di atas kasur, satu per satu tiap harinya.
Kini, setelah kebangkrutan usahanya, bapak justru makin terpuruk. Aku dan kakakku kerap melihatnya berdialog dengan baju-baju ibu di dalam kamar. Baju-baju itu ia susun di atas tempat tidur, satu per satu tiap harinya.
Kondisi semacam itu, tentu merupakan bentuk kekacauan jiwa yang sangat dalam. Tokoh Bapak yang secara lahiriah berusaha bangkit dengan merintis usaha, tetap saja rapuh secara kejiwaan. Bahkan, kondisi kejiwaan itu semakin parah dengan bukti bahwa ia berhalusinasi di alam bawah sadarnya, seolah-olah sang istri masih hidup.
Selain itu, untuk menggambarkan konsep id, tokoh Bapak melakukan tindak bunuh diri, yang secara tersirat bertujuan untuk mengakhiri “penderitaan” hidupnya. Ia merasa tidak bisa hidup tanpa istri yang sangat dicintainya.
Namun alangkah terkejutnya aku ketika melihat pemandangan yang ada di hadapanku, pemandangan yang seketika mampu menghilangkan rasa kantukku menjadi tak berbekas sama sekali, pemandangan yang membuat jantungku seperti tercabut dari tempatnya, pemandangan yang membuatku ingin berteriak sekuat-kuatnya, membuat jiwaku meronta sejadi-jadinya. Tepat di depanku, aku melihat tubuh bapak tergantung kaku.
Kutipan di atas menunjukkan bahwa pada akhirnya, tokoh Bapak melakukan tindak bunuh diri. Tindakan tersebut merupakan puncak dari ketidakmampuan tokoh Bapak dalam menahan kepiluan setelah ditinggal mati istrinya. Dengan kata lain, tokoh Bapak dengan hanya memahami bahwa kepiluan hatinya di dunia pasti akan sirna jika ia tidak lagi hidup di dunia. Ia tidak sadar (paham) bahwa ada kehidupan lain setelah kehidupan dunia, yang justru merupakan fase untuk mempertanggungjawabkan berbagai amaliah manusia selama hidup di dunia.

2.     Konsep Ego
Selain konsep id, terdapat satu tindakan tokoh Bapak dalam cerpen “Halusinasi Sendu” yang menunjukkan bahwa penulis menerapkan konsep ego dalam cerpen gubahannya. Namun sayang, tindakan tokoh Bapak dalam konsep ini, tidak digambarkan dengan jelas. Pada suatu sore, tokoh Bapak pergi ke makam istrinya, lalu pulang pada malam hari.
Secara budaya dan agama, pergi ke makam, apalagi makam orang yang sangat dicintai, bukanlah perbuatan yang tercela jika di sana tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma agama. Bahkan, pergi ke makam justru merupakan tindakan yang mulia jika diniatkan untuk (1) merapikan atau membersihkan kondisi makam, (2) mengingatkan diri sendiri bahwa suatu saat, kematian pasti akan mendatangi diri sendiri, dan (3) mendoakan orang yang sudah meninggal. Meskipun, kita bisa berdoa di mana saja, tanpa harus mendatangi makam orang yang ingin kita doakan.
Untuk lebih jelas, berikut kutipan cerpen yang menyatakan bahwa tokoh Bapak pergi ke makam istrinya pada sore hari.
Dalam kondisi bingung, kusampaikan kronologi halusinasi itu pada kakak. Kakak pun tak tinggal diam. Sore itu, ketika bapak pergi ke makam ibu, tanpa seizin bapak, kakak memaku pintu kamar bapak dan ibu dari luar. Tak hanya itu, ia pun memasang palang dari atas sampai bawah agar pintu itu benar-benar tidak bisa dibuka.
Kutipan di atas jelas menunjukkan bahwa penulis tidak menyebutkan detil tujuan baik atau buruknya tokoh Bapak pergi ke makam istrinya. Karena itu, kritikus menggolongkan tindakan tersebut ke dalam konsep ego.

3.     Konsep Superego
“Halusinasi Sendu” yang berjenis cerita tragedi karya Edsu B. Katori juga menyajikan konsep superego pada tokoh Bapak dengan cukup baik. Sebagai seorang kepala rumah tangga yang memiliki dua anak, tokoh Bapak yang masih dalam kondisi berduka setelah kematian istrinya, tetap berusaha untuk mencari nafkah dengan jalan merintis usaha, seperti pada kutipan berikut.
Hutan kecil itu telah berubah menjadi dua lajur lapak besar, sisa-sisa usaha bapak merintis bisnis kayu yang akhirnya berujung pada kebangkrutan. Bahkan ibarat bunga yang layu sebelum berkembang, usaha bapak bangkrut sebelum sempat berjalan stabil. Modal usaha itu pun habis di tengah jalan. Padahal, modal usaha itu berasal dari sisa hasil penjualan sepetak sawah yang terakhir.
Dari kutipan di atas, kita bisa mengetahui bahwa tokoh Bapak masih menggunakan nuraninya untuk berbuat sesuatu demi menafkahi keluarganya. Ia memanfaatkan “hutan kecil” yang ada di depan rumahnya untuk merintis usaha penjualan kayu. Meskipun pada akhirnya, usaha tersebut berujung bangkrut. Namun paling tidak, secara logika, sebagai kepala keluarga, tokoh Bapak sudah melakukan usaha untuk menafkahi kedua anaknya. Hal itulah yang menunjukkan bahwa penulis tetap memunculkan konsep superego dalam diri tokoh Bapak.

D.   Simpulan
Berdasarkan uraian penilaian tersebut, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan, ditinjau dari sisi psikologi sastra, cerpen “Halusinasi Sendu” karya Edsu B. Katori dengan tokoh Bapak di dalamnya, memiliki konsep id dan superego yang baik. Dinamika kondisi kejiwaan tokoh Bapak tergambar dengan baik. Meskipun, jika ditinjau dari konsep ego, penulis tidak menggambarkan motif tindakan tokoh Bapak dengan jelas. Namun sebagai penulis pemula, Edsu B. Katori mampu menyuguhkan cerita dramatis yang menghibur.

E.    Daftar Pustaka
Freud, Sigmund. 1976. The Interpretation of Dreams. London: Pelican Books.
----. 1981. Jokes and Their Relation to the Unconscious. London: Pelican Books.

F.    Lampiran
Cerpen “Halusinasi Sendu” dapat dilihat di sini.

Kalimat Utama

Wednesday, February 17, 2016

Gagasan Utama

A. Pengertian Gagasan utama 

Gagasan utama yaitu inti suatu bacaan, baik dalam bentuk paragraf atau pun wacana. 

B. Istilah Lain Gagasan utama 

Istilah lain gagasan utama sangat banyak, antara lain:
· Ide pokok, 
· gagasan pokok, 
· pokok pikiran, 
· pokok masalah, 
· pikiran utama, 
· inti paragraf, 
· inti masalah, 
· masalah utama, 
· tema, 
· topik, 
· simpulan. 

Pada dasarnya, semua istilah di atas sama saja, sehingga jika ditanyakan pengertian gagasan utama, jawabannya sama seperti gagasan utama, yaitu inti suatu bacaan. 

Demikian juga jika yang ditanyakan gagasan pokok, pokok pikiran dan lainnya, jawabannya juga sama, yaitu inti suatu bacaan. 

C. Cara Menentukan Gagasan utama 

Cara menentukan gagasan utama secara garis besar ada dua, yaitu sesuai dengan jenis paragrafnya. 

1. Paragraf yang memiliki kalimat utama 

Cara menentukan gagasan utama pada paragraf yang memiliki kalimat utama sangatlah mudah, yaitu dengan mengambil isi kalimat utama itu sendiri.

Cara (cepat) menentukan kalimat utama:
a. Baca Kalimat Pertama dan Kalimat Terakhir
b. Bandingkan/tentukan Kalimat yang Lebih Luas Isinya

Contoh:

Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Kekayaan alam tersebut terdiri dari kekayaan alam yang bersumber dari darat, laut, dan dari dalam perut bumi. Kekayaan alam yang bersumber dari darat misalanya hasil hutan. Sedangkan kekayaan alam yang bersumber dari laut misalnya ikan, rumput laut, dan mutiara. Sementara, kekayaan alam yang bersumber dari dalam perut bumi misalnya minyak, batu bara, emas, timah, nikel dan sebagainya. 


Kalimat utama paragraf di atas terletak pada kalimat pertama karena kalimat pertama berisikan hal yang lebih luas. Dengan demikian, gagasan utama paragraf di atas yaitu Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah atau Kekayaan alam Indonesia sangat melimpah


2. Paragraf yang tidak memiliki kalimat utama 

Cara menentukan gagasan utama pada paragraf yang tidak memiliki kalimat utama yaitu dengan menyimpulkan isi paragraf tersebut. 

Contoh:

Banjir melanda daerah Sumatra Selatan dengan ketinggian satu meter. Banjir juga melanda wilayah Tangerang, Banten dengan ketinggian yang sama, satu meter. Seolah tak mau kalah, ibu kota, Jakarta, pun dilanda banjir dengan ketinggian mencapai satu setengah meter. Gagasan utama paragraf di atas banjir melanda wilayah Sumatra Selatan, Tangerang, dan Jakarta.

Semoga bermanfaat!
^_^

Baca juga:


Bermain Drama

Prolog:
Materi ini bersumber dari wawasan pribadi yang mungkin bersifat subjektif. Karena itu, tidak ada daftar referensi dalam tulisan ini.

Permainan drama atau yang juga populer dengan istilah pementasan drama pada hakikatnya sebuah karya, sama seperti sebuah film. Dengan demikian, bermain drama pun pada hakikatnya berkarya. Dalam dunia seni peran, baik film maupun drama, kata produksi lebih sering digunakan untuk menggantikan istilah karya tersebut.

A. Pihak-pihak yang Terlibat

Untuk memproduksi (memainkan) sebuah drama, idealnya memerlukan pihak-pihak berikut.

1. Pemimpin produksi (pinpro)
Sesuai namannya, pemimpin produksi bertanggung jawab penuh terhadap produksi sebuah pentas drama. Dengan kata lain, sukses tidaknya sebuah produksi merupakan tanggung jawab pemimpin produksi. Untuk itu, seorang pemimpin produksi berhak untuk mengatur segala sesuatu yang berkaitan dengan penyelenggaraan sebuah pentas drama. Seluruh kerabat kerja pun bekerja berdasarkan arahan atau persetujuan pemimpin produksi.

2. Sekretaris produksi
Seperti pada umumnya sekretaris, sekretaris produksi pun bertugas menangani kesekretarisan, seperti membuat surat-surat, membuat proposal (jika perlu), membuat selebaran atau dengan mendata segala keperluan tim produksi berkaitan dengan hal kesekretarisan kemudian memenuhinya.

Selain itu, sama seperti sekretaris lainnya, seorang sekretaris produksi pun bertanggung jawab dalam pembuatan laporan kegiatan produksi. Laporan tersebut berisikan berbagai hal yang berhubungan dengan kegiatan produksi yang telah dilakukan. Sehingga dari laporan kegiatan itulah kegiatan produksi selanjutnya bisa bercermin.

3. Bendahara produksi
Bendahara bertanggung jawab menentukan dan mengelola dan membuat laporan anggaran produksi. Untuk lebih detilnya, bendahara bisa mendaftarkan berbagai keperluan keuangan dari tiap seksi.

4. Seksi humas (hubungan masyarakat)
Seksi humas bertugas sebagai mediator (penghubung) antara tim produksi dengan pihak lain, seperti pengelola tempat pentas, sponsor, undangan dan sebagainya.

5. Seksi dokumentasi
Seksi dokumentasi bertanggung jawab untuk mendokumentasikan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan produksi, dalam bentuk foto atau pun video. Dokumentasi tersebut bukan hanya dijadikan sebagai bukti sebuah kegiatan, tetapi lebih untuk dijadikan bahan evaluasi yang bisa menjadi pembelajaran pada masa selanjutnya.

6. Seksi konsumsi
Seksi konsumsi berkewajiban memperkirakan dan menyiapkan konsumsi yang diperlukan selama melakukan produksi dengan cara berkoordinasi dengan kerabat kerja yang lain di bawah tanggung jawab pemimpin produksi.

7. Stage manager atau manajer panggung
Manajer panggung bertanggung jawab atas segala persiapan dan pelaksanaan pentas, mulai dari mengatur jadwal berlatih, mengonfirmasi seluruh anggota kru (kerabat kerja) panggung, mendata dan mengatur segala keperluan pementasan. Dengan demikian, seluruh anggota kru (kerabat kerja) panggung bekerja di bawah koordinasi manajer panggung dan mempertanggungjawabkan kerjanya kepada manajer panggung.

8. Sutradara
Sutradara bertanggung jawab penuh atas permainan drama di atas panggung. Sutradaralah yang mengatur gerak pemain, lampu, busana, dan segala sesuatu yang berkaiatan permainan drama di atas panggung. Sehingga, baik buruk sebuah pentas drama merupakan tanggung jawab sutradara.

9. Asisten sutradara
Seperti namanya, asisten sutradara bertugas membantu sutradara dalam mengatur permainan drama di atas panggung. Tugas tersebut misalnya memimpin pemanasan tubuh sebelum berlatih, melatih pemain secara perorangan pada saat sutradara memimpin proses berlatih secara keseluruhan, atau mewakili sutradara jika sutradara berhalangan untuk berlatih dan sebagainya.

10. Pemain
Tugas pemain sangat jelas, yaitu memainkan peran yang diembannya berdasarkan arahan sutradara.

11. Pencatat adegan
Tugas pencatat adegan yaitu mencatat perkembangan latihan, berupa arah pergerakan pemain di atas panggung, pengaturan terang redupnya lampu yang disesuaikan dengan permainan, perubahan naskah yang memang bisa berubah berdasarkan arahan sutradara dan sebagainya.

12. Penata panggung
Tanggung jawab penata panggung yaitu menyiapkan dan menata berbagai perlengkapan panggung yang disesuaikan dengan arahan sutradara.

13. Penata busana
Tanggung jawab penata busana yaitu menyiapkan dan menata berbagai busana yang diperlukan pemain berdasarkan arahan sutradara.

14. Penata rias
Tanggung jawab penata rias yaitu menyiapkan peralatan rias dan menata rias wajah pemain berdasarkan arahan sutradara.

15. Penata lampu
Tanggung jawab penata lampu yaitu menyiapkan peralatan lampu panggung dan menata lampu tersebut di panggung berdasarkan arahan sutradara.

16. Penata musik
Tanggung jawab penata musik yaitu menyiapkan peralatan musik dan menata musik permaian pemain berdasarkan arahan sutradara.



B. Teknik Bermain Drama

Sebelum membahas lebih lanjut mengenai teknik bermain drama, kita harus menetapkan tujuan dalam memahami teknik bermain drama terlebih dahulu. Jika untuk menjadi seniman drama, diperlukan teknik khusus dan proses yang lama. Namun jika hanya untuk membekali diri supaya bisa bermain drama tingkat dasar, berikut penjelasannya.
Untuk bisa bermain drama, seorang pemain harus memerhatikan hal-hal berikut.

1. Konsentrasi
Sebelum bermain atau pun berlatih drama, kita harus bisa memusatkan perhatian kita dulu supaya prosesnya bisa berjalan dengan maksimal. Dalam drama, berkonsentrasi biasanya dilakukan dengan memejamkan mata dan terus berusaha untuk menenangkan diri. Hal tersebut bisa dilakukan sambil berdiri, duduk, atau pun berbaring. Namun pada umumnya, konsentrasi dilakukan sambil duduk bersila, meluruskan penggung, dan meletakkan pergelangan tangan di ujung lutut.

Bukan hanya diperlukan untuk memulai berlatih drama, konsentrasi juga diperlukan selama berlatih atau pun bermain drama langsung di atas panggung. Untuk itu, kita perlu melatih diri kita supaya bisa berkonsentrasi kapan pun. Hal tersebut bisa dilakukan dengan bermain apa saja yang melatih konsentrasi, baik secara individu atau pun berkelompok, baik dalam forum berlatih atau pun di luar lingkaran jadwal berlatih.

2. Pernapasan
Pernapasan memang terkesan sepele karena pada dasarnya tiap manusia yang hidup pasti melakukan pernapasan. Namun, pernapasan dalam hal ini memiliki jenis sesuai dengan keperluannya. Untuk tingkat dasar, paling tidak kita harus bisa membedakan dan menerapkan dua jenis pernapasan, yaitu pernapasan perut dan pernapasan dada.

a. Pernapasan perut
Pernapasan jenis ini merupakan modal dasar seseorang dalam bermain drama. Sesuai namanya, pernapasan ini menggunakan perut untuk menyimpan udara yang dihirup dari hidung atau pun mulut, seperti pada saat kita sedang tidur. Indikasinya, jika kita menarik napas, perut kita akan mengembang. Sebaliknya, jika kita mengeluarkan (menghembuskan) napas, perut kita yang tadinya mengembang akan mengempis.

Ada pun indikasi lain dalam penerapan pernapasan perut yaitu dengan melihat bahu. Jika ketika kita bisa menerapkan pernapasan perut, bahu kita tidak akan bergerak-gerak naik turun. Sebaliknya, jika bahu masih bergerak-gerak naik turun, kita masih belum bisa menerapkan pernapasan perut.


Fungsi pernapasan ini yaitu supaya kita bisa mengeluarkan vokal dengan maksimal tanpa menimbulkan rasa sakit karena tenaga hentakan bersumber dari perut kita. Namun jika kita belum bisa menerapkan pernapasan ini, cara yang biasanya digunakan untuk melatihnya yaitu dengan berbaring seperti sedang tidur karena pada umumnya jika kita tidur, kita menerapkan pernapasan perut. Setelah kita berbaring seperti sedang tidur, letakkan tangan kita di atas perut kita supaya kita dapat merasakan indikasi bisa tidaknya kita menerapkan pernapasan perut tersebut, seperti pada uraian di atas.


b. Pernapasan dada

Pernapasan ini memiliki indikasi pergerakan bahu. Jika ketika kita bernapas bahu kita bergerak naik turun, itulah tandanya kita sedang menggunakan teknik pernapasan dada. Penggunaan pernapasan dada dalam bermain drama memiliki fungsi tersendiri. Misal, untuk mengekspresikan orang marah, terengah-engah, dan suara orang tua yang biasanya serak. Sedangkan untuk berdialog biasa, sebaiknya kita tetap menggunakan pernapasan perut karena pernapasan dada bisa mengakibatkan suara serak, dada terasa sesak, bahkan sakit tenggorokan.

Untuk itu, ada hal yang perlu diperhatikan ketika kita sedang berperan sebagai orang yang sedang marah atau pun terengah-engah. Penggunaan pernapasan tersebut hanya untuk menunjukkan gestur (ekspresi tubuh), yaitu naik turunnya bahu, bukan untuk mengeluarkan vokal dan melakukan dialog.


3. Vokal
Dilihat dari vokal, bermain drama sangat berbeda dengan film yang menggunakan alat pengeras suara. Dalam drama, seorang pemain drama dituntut untuk bisa mengatur vokalnya supaya dialognya bisa terdengar dengan jelas oleh penonton dalam sebuah gedung atau panggung. Namun demikian, bukan berarti seorang pemain drama harus berteriak supaya suaranya bisa terdengar penonton.

Untuk itu, dalam mengatur vokal, seorang pemain harus memerhatikan tiga hal berikut.
a. Intensitas (kekuatan)
b. Intonasi (nada)
c. Artikulasi (kejelasan)

Ada pun teknik melatih vokal yaitu sebagai berikut. Pertama, kita harus mengetahui bahwa vokal memiliki hubungan yang sangat erat dengan penerapan pernapasan. Seperti pada penerapan pernapasan, vokal pun dibagi menjadi dua, yaitu vokal perut dan vokal dada. Disebut vokal perut karena menggunakan teknik pernapasan perut. Sebaliknya, disebut vokal dada karena menggunakan teknik pernapasan dada.

Untuk melatih vokal perut, tahapan awalnya sama seperti pernapasan perut, yaitu dengan menarik napas dari hidung sampai perut kita mengembang, kemudian menghembuskannya melalui mulut, namun dengan disertai suara atau vokal. Sebagai dasar, keluarkanlah vokal “a” secara perlahan sampai udara yang kita hembuskan berhenti dengan sendirinya. Lakukan secara berulang-ulang, dimulai dengan intensitas vokal yang rendah sampai yang tinggi, dari yang pendek sampai yang panjang, dari hanya vokal “a” sampai keempat vokal yang lainnya (i u e o).

4. Mimik
Mimik atau ekspresi wajah juga merupakan modal utama dalam bermain drama. Peran apa pun dalam bermain drama, pasti memerlukan mimik yang spesifik, seperti sedih, marah, senang, takut, bingung, sombong, mengantuk, dan sebagainya.

Untuk melatih mimik, kita bisa melakukannya sambil bercermin atau meminta teman untuk menilai. Kita bisa memeragakan berbagai bentuk ekspresi wajah. Sebagai tahap awal, lakukan senam wajah, yaitu dengan menggerak-gerakkan seluruh bagian wajah, mulai dahi, pelipis, alis, bola mata, pipi, rahang, hidung, bibir, dagu dan sebagainya.

Jika seseorang terbiasa melakukan senam wajah, terutama setiap bangun tidur, biasanya akan mudah memeragakan berbagai macam ekspresi wajah. Untuk itu, lakukanlah senam wajah sesering mungkin, baik tanpa cermin atau pun di depan cermin, baik sendirian atau pun berkelompok!

5. Gestur
Gestur yaitu gerak atau ekspresi seluruh anggota tubuh, mulai dari kepala sampai kaki. Dalam permainan darama, gestur pun sangat menunjang kemaksimalan penampilan. Tentu saja, setiap gestur tetap harus disesiakan dengan peran yang ada dalam cerita.

Untuk melatih gestur, kita bisa melakukan gerakan pemanasan, pendinginan, atau bahkan tarian. Kita juga bisa melatih dari gerakan kecil sampai besar. Misal dimulai dari menggerakkan kepala, bahu, lengan, jari, badan, tangan, pinggung, kaki, berpindah tempat dan sebagainya.

6. Imajinasi
Dari tiga hal yang tersebut di atas, yaitu vokal, mimik, dan gestur, tidak akan maksimal kita lakukan jika imajinasi kita tumpul atau tidak bermain. Imajinasi merupakan “gerak” yang kita lakukan dalam khayalan, yang kemudian kita wujudkan dalam gerak nyata seperti yang kita inginkan. Semakin bagus imajinasi seseorang, semakin bagus (indah dan bervariatif) pula gerak yang bisa dimunculkan. Namun demikian, kita tetap harus berusaha (berani) menampilkan gerakan apa pun yang ada dalam imajinasi kita.

Jika berkelompok, teknik yang biasa digunakan untuk mengasah imajinasi yaitu dengan mengikuti arahan pemandu. Misal, pemandu mengarahkan kita untuk berimajinasi menjadi pemulung. Setelah indera pendengaran kita menangkap arahan tersebut, otak kita berimajinasi dan memerintahkan seluruh anggota tubuh untuk memeragakan seorang pemulung. Dari itulah, vokal, mimik, dan gestur kita akan mencerminkan pemulung.

7. Improvisasi
Improvisasi memiliki cakupan makna memperbaiki, mengembangkan, dan melakukan tanpa panduan. Dalam hal bermain drama, improvisasi dengan cakupan makna seperti itu jelas sangat diperlukan. Hal tersebut disebabkan drama merupakan seni peran yang langsung dimainkan di depan penonton. Jika ketika bermain drama di atas panggung kita lupa, kita harus memperbaikinya dengan melakukan adegan apa saja untuk mengembalikan cerita sesuai inti naskah. Demikian juga jika lawan main kita terlihat lupa naskah, kita pun harus bisa berimprovisasi untuk menyesuaikannya.

Kecelakaan pun bisa terjadi saat kita sedang bermain drama di atas panggung. Jika seperti itu, sebagai pemain, kita pun dituntut untuk bisa berimprovisasi supaya cerita tetap bisa dilanjutkan tanpa ada potongan.

Sama seperti hal lain di atas, improvisasi pun bisa dilatih. Para pemain drama biasanya melakukannya dengan memainkan adegan tanpa naskah atau pun persiapan matang sebelumnya. Hal tersebut bisa dilakukan secara berkelompok atau pun individu. Jika teknik seperti ini sering dilakukan, lambat laun daya improvisasi kita pun akan bagus. Bahkan, kita pun akan bisa berimprovisasi dalam berbagai hal yang nyata, bukan hanya dalam drama.

8. Blocking
Istilah ini memang sudah mendarah daging dalam permainan drama walaupun bisa diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, yaitu menutupi. Dalam hal ini, konteks menutupi yaitu menutupi anggota tubuh sendiri atau pun pemain lain. Misal, kita menunjuk sesuatu di arah kanan dengan tangan kiri sehingga tangan kiri kita melintang di depan dada. Bisa juga kita menghadap ke samping tanpa alasan kuat sehingga penonton tidak bisa melihat ekspresi (gestur) kita dari depan. Atau bahkan kita membelakangi penonton tanpa alasan yang jelas sehingga penonton pun tidak bisa melihat ekspresi kita. Untuk itu, kita pun dituntut jeli dalam hal ini.

9. Movement
Sama seperti di atas, istilah ini pun sebenarnya memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, yaitu perpindahan. Perpindahan dalam hal ini yaitu pergerakan pemain di atas panggung. Perpindahan diperlukan untuk menghindari kemonotonan penampilan permainan di atas panggung. Namun demikian, kita tetap harus memerhatikan hal-hal di atas supaya perpindahan kita tidak menimbulkan masalah yang baru.

10. Keseimbangan panggung
Semua batasan yang disampaikan di atas demi kemaksimalan permainan drama di atas panggung. Demikian juga dengan batasan yang ini. Keseimbangan panggung dimaksudkan supaya komposisi panggung terlihat seimbang sehingga terasa enak dilihat penonton. Misalnya penempatan benda-benda pementasan (properti) atau pun penempatan pemain di atas panggung.



C. Tahap Berlatih Drama

Tidak ada rumus baku mengenai tahapan berlatih drama. Namun, pada umumnya, jika seseorang ingin berlatih drama untuk yang pertama kalinya, harus memulainya dari tahap kecil terlebih dahulu, seperti pernapasan dan vokal. Untuk menguasai penerapan pernapasan, biasanya diperlukan waktu latihan yang tidak sebentar. Namun demikian, proses ini bisa ditempuh tidak hanya pada saat berlatih secara berkelompok. Setelah kita mengetahui teorinya, kita bisa mematangkan penguasaannya kapan pun dan di mana pun.

Setelah kesepuluh teori di atas dikuasai dalam bentuk praktik, baru kemudian mencoba untuk memproduksi pementasan. Namun demikian, segala sesuatunya kembali kepada kemampuan masing-masing. Jika merasa mampu tanpa menerapkan teori di atas, bisa saja melakukan produksi setelah merasa yakin. Bahkan bila perlu, kita bisa mengeksplorasi diri kita dengan berbagai metode baru tanpa harus terpaku pada panduan di atas.

Ada pun mengenai intensitas waktu dalam berlatih, jika ingin cepat merasakan hasilnya, tentu saja intensitasnya harus tinggi. Misal, dalam satu pekan melakukan proses berlatih sebanyak dua dampai tiga kali.

Selamat Mencoba!
^_^

Ide Pokok

A. Pengertian Ide Pokok 

Ide pokok yaitu inti suatu bacaan, baik dalam bentuk paragraf atau pun wacana. 

B. Istilah Lain Ide Pokok 

Istilah lain ide pokok sangat banyak, antara lain:
· gagasan utama, 
· gagasan pokok, 
· pokok pikiran, 
· pokok masalah, 
· pikiran utama, 
· inti paragraf, 
· inti masalah, 
· masalah utama, 
· tema, 
· topik, 
· simpulan. 

Pada dasarnya, semua istilah di atas sama saja, sehingga jika ditanyakan pengertian gagasan utama, jawabannya sama seperti ide pokok, yaitu inti suatu bacaan. 

Demikian juga jika yang ditanyakan gagasan pokok, pokok pikiran dan lainnya, jawabannya juga sama, yaitu inti suatu bacaan. 

C. Cara Menentukan Ide Pokok 

Cara menentukan ide pokok secara garis besar ada dua, yaitu sesuai dengan jenis paragrafnya. 

1. Paragraf yang memiliki kalimat utama 

Cara menentukan ide pokok pada paragraf yang memiliki kalimat utama sangatlah mudah, yaitu dengan mengambil isi kalimat utama itu sendiri.

Cara (cepat) menentukan kalimat utama:
a. Baca Kalimat Pertama dan Kalimat Terakhir
b. Bandingkan/tentukan Kalimat yang Lebih Luas Isinya

Contoh:

Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah. Kekayaan alam tersebut terdiri dari kekayaan alam yang bersumber dari darat, laut, dan dari dalam perut bumi. Kekayaan alam yang bersumber dari darat misalanya hasil hutan. Sedangkan kekayaan alam yang bersumber dari laut misalnya ikan, rumput laut, dan mutiara. Sementara, kekayaan alam yang bersumber dari dalam perut bumi misalnya minyak, batu bara, emas, timah, nikel dan sebagainya. 


Kalimat utama paragraf di atas terletak pada kalimat pertama karena kalimat pertama berisikan hal yang lebih luas. Dengan demikian, ide pokok paragraf di atas yaitu Indonesia memiliki kekayaan alam yang sangat melimpah atau Kekayaan alam Indonesia sangat melimpah


2. Paragraf yang tidak memiliki kalimat utama 

Cara menentukan ide pokok pada paragraf yang tidak memiliki kalimat utama yaitu dengan menyimpulkan isi paragraf tersebut. 

Contoh:

Banjir melanda daerah Sumatra Selatan dengan ketinggian satu meter. Banjir juga melanda wilayah Tangerang, Banten dengan ketinggian yang sama, satu meter. Seolah tak mau kalah, ibu kota, Jakarta, pun dilanda banjir dengan ketinggian mencapai satu setengah meter. Ide pokok paragraf di atas banjir melanda wilayah Sumatra Selatan, Tangerang, dan Jakarta.

Semoga bermanfaat!
^_^

Baca juga: